Jumat, 29 Juni 2012

BUDIDAYA PADI BERBASIS SRI


A. Budidaya Padi dan Permasalahannya
Padi merupakan tanaman asli daerah Indo China, namun sekarang telah berkembang luas dan menjadi tanaman penghasil bahan pangan kedua setelah gandum. Tanaman ini merupakan tanaman yang sangat penting terutama di daerah tropik (Yayock et al., 1988). Walaupun dapat dibudidayakan secara dalam berbagai keadaan tanah, namun pada umumnya padi ditanam dalam keadaan tergenang (Williams, 1982)
Peningkatan produktivitas padi telah banyak dilakukan dengan beragam program, seperti Bimbingan Massal (Bimas), Intensifikasi Massal (Inmas), dan disusul Intensifikasi Khusus (Insus) dan Supra Insus. Dalam berbagai program tersebut, teknologi budidaya padi disusun dalam bentuk satu paket teknologi mulai dari penyiapan benih sampai panen. Pada kenyataannya, program tersebut telah mampu meningkatkan produksi padi nasional bahkan pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras.  Namun setelah itu mulai terjadi gejala levelling off produktivitas padi, bahkan selama tiga dasawarsa terakhir pertumbuhan produksi dan produktifitas padi mengalami penurunan yang signifikan. Sebagai akibatnya sejak tahun 1994, Indonesia sudah tidak lagi berswasembada beras.
Dalam jangka panjang, berbagai teknologi pertanian yang diterapkan telah memunculkan banyak permasalahan seperti penurunan produktivitas lahan dan daya dukung lingkungan, kerusakan lingkungan, maupun masalah–masalah sosial lainnya.
Budidaya padi  yang dilakukan petani selama ini sebenarnya mempunyai banyak kelemahan sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terbatas dan hasil panen menjadi rendah. Beberapa permasalahan tersebut adalah :

Wereng Batang Boklat

HAMA WERENG COKLAT


Wereng cokelat (Brown planthopper) Nilaparvata lugens (stal) termasuk family Delphacidae, ordo Homoptera, telah diketemukan oleh Stal sejak tahun 1854.Dulu oleh Stal dimasukkan ke dalam genus Delphax, sehingga dengan penamaan yang baru Stalnya dikurung.

Wereng Cokelat (Nilaparvata Lugens Stal)

Phylum            : Arthropoda

Class                : Insecta

Ordo                : Homoptera

Sub Ordo        : Auchenorrhyncha

Family             : Delphacidae

Sub Family      : Fulgoroidea




Wereng coklat termasuk serangga bertipe r-strategi, artinya :
a.     Populasi serangga dapat menemukan habitatnya dengan cepat;
b.  Berkembang biak dengan cepat dan mampu menggunakan sumber makanan dengan baik, sebelum serangga lain ikut berkompetisi; dan
c.   Mempunyai sifat menyebar dengan cepat ke habitat baru, sebelum habitat yang lama tidak berguna lagi.
Wereng coklat berukuran kecil, panjang 0,1-0,4 cm. Serangga wereng coklat dewasa bersayap panjang dapat menyebar sampai beratus kilometer. Wereng coklat bersayap panjang dan wereng punggung putih berkembang ketika makanan tidak tersedia atau terdapat dalam jumlah terbatas. Pada umumnya mempunyai sifat sebagai berikut :
a.   Selalu melakukan penghisapan sejenis zat cair dan air dari batang-batang tanaman padi atau sejenisnya yang masih muda atau butir-butir buahnya yang juga masih muda dan lunak;
b.   Pada umumnya setiap wereng mempunyai moncong yang kuat, yang berfungsi sebagai alat penghisap ;
c.    Gangguan yang dihadapinya selalu dihindari dengan gerakan menyembunyikan dirinya baik kesamping atau ke belakang dari daun dan batang tanaman yang sedang dirusaknya, dan dalam menghadapi hal yang mengejutkannya selalu melakukan gerakan loncat tanpa arah yang menentu, kemana atau ke bagian mana saja, rupanya asal dapat menghindari guna menyelamatkan dirinya.
Nilapervata lugens berwarna cokelat,kesukaan hidupnya pada tempat dengan suasana lembab dan gelap/teduh. Wereng ini gemar sekali merusak tanaman padi karena tanaman padi umumnya berdaun lebat dan selalu hidup ditempat yang berair (memenuhi suasana lembab dan teduh diatas, dan biasanya pula sambil menunggu adanya tanaman padi, wereng cokelat mampu bertahan pada rumput-rumputan atau tanaman-tanaman lembab lainnya, begitu para petani mengolah sawahnya, segera melakukan inovasi.

Siklus Hidup

Wereng coklat berkembang biak secara seksual. Siklus hidup wereng cokelat semenjak telur hingga umur matinya dapat dijelaskan sebagai berikut :

a.       Telur
Masa prapenelurannya 3-4 hari untuk brakiptela (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang) (MOCHIDA, 1977).Telur biasanya diletakan pada jaringan pangkal pelepah daun.Tetapi, kalau populasinya tinggi, telur diletakan di ujung pelepah daun dan tulang daun.Telur diletakan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir.Bentuk telur wereng coklat lonjong agak melengkung berdiameter 0,067-0,133 milimeter dengan panjangnya antara 0.830-1,000 milimeter.Dalam waktu sekitar 9 hari telur telah mulai menetas.Satu wereng betina tidak meletakan telur hanya pada satu rumpun padi, tetapi dari beberapa rumpun dan berpindah-pindah.Dengan demikian pada suatu saat nimfa sudah tersebar pada beberapa rumpun.

b.      Larva/nimfa
Telur wereng cokelat menetas menjadi nimfa. Metamorfosanya sederhana atau bertingkat disebut heterometabola. Serangga muda mirip induknya. Makanannyapun sama dengan serangga induknya. Nimfa mengalami lima instar dan rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan stadium nimfa beragam, tergantung dari bentuk dari bentuk dewasa ysng muncul.
Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa bentuk pertama adalah makroptera (bersayap kerdil) yaitu wereng cokelat yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang secara normal. Bentuk kedua adalah brakiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng cokelat dewasa yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang yang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang sangat rudimental. wereng cokelat mulai bersayap dalam umur sekitar 13 hari. Umumnya wereng brakiptera bertubuh lebih besar, mempunyai tungkai dan peletak telur lebih panjang (Kisimoto, 1957).
Hasil kopulasi antar jantan brakiptera dengan betina  brakiptera, atau betina makroptera dan hasil kopulasi antar jantan makroptera dengan betina brakiptera, atau betina makroptera pada generasi ke-1 menghasilkan jantan makroptera dan brakiptera dari kedua  jenis kelamin.
Baehaki (1884) melaporkan bahwa tingkat perkembangan wereng cokelat brakiptera dapat dibagi menjadi masa prapeneluran 2-8 hari, masa bertelur 9-20 hari, dan masa pasca peneluran beberapa jam sampai 3 hari, sedangkan pradewasa adalah 19-23 hari. Lee dan park (1977) melaporkan bahwa umur serangga dewasa ialah 20-30 hari, tetapi mungkin pada tanaman yang tahan akan lebih pendek.
Selain dipengaruhi oleh kepadatan populasi munculnya wereng makroptera juga dipengaruhi oleh umur tanaman dan kurangnya makanan.Pemunculan makroptera lebih banyak pada tanaman tua daripada tanaman muda dan pada tanaman setengah rusak (partially hopperburn) dibanding dengan tanaman sehat.
Faktor alelokemik tanaman merupakan faktor yang agak langsung mempengaruhi bentuk sayap.Jaringan tanaman hijau kaya bahan kimia mimik hormon juvenil.Tetapi pada padi yang mengalami penuaan bahan kimia mimik hormon juenilnya berkurang.Oleh karena itu perkembangan wereng cokelat pada tanaman tua atau setengah tua banyak muncul makroptera.
Perubahan bentuk sayap ini penting sekali ditinjau dari tersedianya makanan pokok di lapang.Pada lahan tanaman yang sudah dipanen makanan wereng menjadi berkurang, sehingga wereng menghadapi katastropi.Sebelum terjadi bencana tersebut wereng cokelat merubah posisi menjadi wereng makroptera, lalu bermigrasi mencari tempat baru yang cocok untuk perkembang biakannya.

c.       bertelur kembali setelah mencapai umur sekitar 2 minggu,.
Jadi, dalam waktu yang relative singkat wareng cokelat akan berlipat ganda mencapai jumlah yang besar. Umur kematiannya yaitu setelah mencapai sekitar 40-41 hari, tetapi bergantiannya dalam jumlah banyak, sehingga dalam umur maksimumnya wereng cokelat bertelur sampai 3 kali dan tiap kali mencapai ratusan telur.

TINDAKAN YANG DILAKUKAN

Wereng coklat (WCk) menjadi salah satu hama utama tanaman padi di Indonesia sejak pertengahan tahun 1970-an. Ini merupakan konsekuensi dari penerapan sistem intensifikasi padi (varietas unggul, pemupukan N dosis tinggi,  penerapan IP>200, dsb). Penggunaan pestisidayang melanggar kaidah PHT (tepat jenis pestisida yang digunakan (khusus wereng coklat), tepat dosis, dan tepat waktu aplikasi) turut memicu ledakan wereng coklat.WCk juga merupakan vektor penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa
Hama wereng coklat selalu menghisap cairan dan air dari batang padi muda atau bulir buah muda yang lunak, dapat meloncat tinggi dan tidak terarah. WCk berwarna coklat, berukuran 3-5 mm, habitat di tempat lembab, gelap dan teduh. Telur banyak yang ditempatkan di bawah daun padi yang melengkung dengan masa ovulasi 9 hari menetas, 13 hari membentuk sayap, dan 2 minggu akan bertelur kembali. Tindakan yang dapat dilakukan untuk memberantas wereng coklat adalah dengan cara preventif, represif, dan kuratif.

1.    Tindakan preventif dengan cara:
a.       Memeriksa dengan teliti rumpun daun padi yang layu.
b.    Apabila ditemukan wereng dalam rumpun, bunuh dan periksa telurnya di daun, lalu daun dicabut dan dibakar.
c.   Apabila dalam serumpun terdapat banyak wereng, lakukan penyemprotan massal dengan insektisida.

2.    Tindakan represif dilakukan sebagai berikut:
a.       Pengeringan pada petakan sawah.
b.      Pencabutan dan pembakaran seluruh tanaman.
c.     Memilih bibit unggul (Sicantik, Bengawan, dan lain-lain) yang direndam dalam Aldrien 40% (12 gr/1 kg benih) atau Dildrien 50% WP (10 gr/1 kg benih).
d.      Crop rotation (pergiliran padi dan palawija).

3.    Tindakan kuratif ditempuh dengan:
a.                Insektisida butiran dengan menggunakan Furadan 30 (17-20 kg/ha), Basudin 10 (10-15 kg/ha) dan Diazinon 10G (10-15 kg/ha) yang ditaburkan diantara larikan petak sawah, tiga atau empat minggu sekali.
b.      Penyemprotan insektisida cair seminggu sekali atau maksimal 10 hari sekali menggunakan Agrothion 50, Sumithion 50 EC (2 ltr/ha), Karphos 50 EC (2 ltr/ha), DDVP 50 EC (0,6 ltr/ha), Nogos 50 (2 ltr/ha), Sevin 85 SP (1,2 ltr/ha), Diazinon 60 EC (1,5 ltr/ha)
BBPTP memiliki varietas unggul dengan ketahanan wereng cokelat dari biotipe yang berbeda-beda. Varietas padi yang tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1 dan 2 adalah Inpari 3, sedangkan varietas yang tahan biotipe 2 adalah Inpari 1. Inpari 6 Jete adalah varietas yang tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 2 dan 3. Varietas yang memiIiki sifat ketahanan terhadap ketiga biotipe hama wereng cokelat sekaligus (biotipe 1, 2, dan 3) adalah Inpari 2, Inpari 13, dan IR66. Ketiga varietas tersebut lebih kuat ketahanan biotipenya dan cocok ditanam pada daerah yang terserang hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan 3.
            Wereng Coklat masih dianggap hama utama pada tanaman padi. Kerusakan akibat serangan hama ini cukup luas dan hampir terjadi pada setiap musim tanam. Secara langsung wereng coklat akan menghisap cairan sel tanaman padi sehingga tanaman menjadi kering dan akhirnya mati.  Berikut cara pengendalian hama wereng coklat :

 1.      Tanam padi Serempak
Pola tanam serempak dalam areal yang luas dan tidak dibatasi oleh admisistrasi dapat mengantisipasi penyebaran serangan wereng coklat karena jika serempak, hama dapat berpindah-pindah ke lahan padi yang belum panen. Wereng coklat terbang bermigrasi tidak dapat dihalangi oleh sungai atay lautan.

 2.      Perangkap Lampu
Perangkap lampu merupakan perangkap yang paling umum untuk pemantauan migrasi dan pendugaan populasi serangga yang tertarik pada cahaya, khususnya wereng coklat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan perangkap lampu antara lain, kekontrasan lampu yang digunakan pada perangkap lampu yang terdapat di sekitarnya. Semakin kontras cahaya lampu yang digunakan maka akan luas jangkauan tangkapannya. Kemampuan serangga untuk menghindari lampu perangkap yang dipasang.
Perangkap lampu dipasang pada pematang (tempat) yang bebas dari naungan dengan ketinggian sekitar 1,5 meter diatas permukaan tanah. Lampu yang digunakan adalah lampu pijar 40 watt dengan voltase 220 volt. Lampu dinyalakan pada jam 18.00 sampai dengan 06.00 pagi. Agar serangga yang tertangkap tidak terbang lagi, maka pada penampungan serangga yang berisi air ditambahkan sedikit deterjen.
Keputusan yang diambil setelah ada wereng pada perangkap lampu, yaitu wereng-wereng yang tertangkap dikubur, atau keringkan pertanaman padi sampai retak, dan segera setelah dikeringkan kendalikan wereng pada tanaman padi dengan insektisida yang direkomendasikan.

 3.      Tuntaskan pengendalian pada generasi 1
Menurut Baihaki (2011), perkembangan wereng coklat pada pertanaman padi dapat terbagi menjadi 4 (empat) generasi yaitu :
a.       generasi 0 (G0) = umur padi 0-20 HST (hari Sesudah Tanam)
b.      Generasi 1 (G1) = Umur padi 20-30 HST, wereng coklat akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-1
c.       Generasi 2 (G2) = Umur padi 30-60 HST, wereng coklat akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-2
d.      Generasi 3 (G3) = umur padi diatas 60 HST.
Pengendalian wereng yang baik yaitu :
  • Pada saat generasi nol (G0) dan generasi 1 (G1).
  • Gunakan insektisida berbahan aktif buprofezin, BPMC, fipronil dan imidakloprid.
  • Pengendalian wereng harus selesai pada generasi ke-1 (G1) atau paling lampat pada generasi ke -2 (G2).
  • Pengendalian saat generasi ke-3 (G3) atau puso tidak akan berhasil
4.      Penggunaan Insektisida
  • Keringkan pertanaman padi sebelum aplikasi insektisida baik yang disemprot atau butiran
  • Aplikasi insektisida dilakukan saat air embun tidak ada, yaitu antara pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.00, dilanjutkan sore hari. Insektisida harus sampai pada batang pagi.
  • Tepat dosis dan jenis yaitu berbahan aktif buprofezin, BPMC, fipronil dan imidakloprid.
  • Tepat air pelarut 400-500 liter air per hektar.

Pestisida Nabati Hama Wereng Coklat


Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) merupakan salah satu kendala utama dalam program peningkatan produksi pangan.Masalah OPT semakin komplek akibat semakin luasnya pertanaman yang dibudidayakan dan cenderung bersifat monokultur.
Pada budidaya tanaman padi, OPT utama yang muncul bervariasi pada antar musim, antar daerah atau agroekosistem, sehingga dalam penanganannyapun bersifat local spesifik. Salah satu OPT utama yang sering muncul pada budidaya tanaman padi adalah wereng batang coklat (WBC) (Nilaparvata lugens). Akibat serangan hama wereng ini dapat menimbulkan kerusakan tingkat ringan sampai berat/puso.
Penggunaan pestisida sintesis/kimia yang kurang bijaksana untuk pengendalian OPT dapat menimbulkan dampak negatif seperti terjadinya pencemaran lingkungan (tanah dan air), imunitas hama, dan terjadinya ledakan hama. Oleh karena itu kebijakan perlindungan tanaman/pengendalian OPT berpijak pada konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Konsep ini memadukan satu atau lebih teknik pengendalian dalam satu kesatuan.Strategi dan teknik pengendalian harus memenuhi persyaratan keamanan/ramah lingkungan dan efektif tanpa adanya efek samping serta dapat menjamin pertanian berkelanjutan.
Salah satu teknik pengendalian yang memenuhi persyaratan tersebut di atas adalah pengendalian dengan menggunakan Pestisida Nabati.Pestisida Nabati adalah pestisida yang dapat dibuat sendiri dari bahan-bahan nabati yang ada disekitar kita, mudah didapat dan terjangkau harganya.
Pemanfaatan dan pengelolaan bahan-bahan nabati untuk pestisida dalam mengendaliakan OPT oleh masyarakat petani dapat dijadikan titik tolak petani dalam usaha pelestarian, dan merupakan cara pendekatan tidak langsung masyarakat petani dalam ikut mengembangkan teknik pelestarian lingkungan.
Berbagai bahan nabati yang dapat digunakan sebagai pestisida anata lain : Pinus, kluwek, sirsak, tembakau, sirih, gadung, lengkuas, jahe, sengon buto, srikaya, tuba, mimba, bawang putih, tembelekan, kenikir, cabe merah, kemangi, dringo, jarak, kunyit, mahoni, serai, mindi, lada, jengkol, sambiloto, maja dll.


PESTISIDA NABATI HAMA WERENG COKLAT

Wereng batang coklat (WBC) (Nilaparvata lugens) merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi. Saat ini di beberapa daerah di Kabupaten Banyumas telah terjadi serangan hama wereng batang coklat dan menimbulkan kerusakan/kerugian yang cukup besar. Di Kecamatan Purwojati, berdasarkan pengamatan di lapangan, hama wereng ini juga telah diketahui muncul di beberapa lokasi (desa Karangmangu) walaupun popolasinya masih rendah (1-3 ekor/rumpun) pada tanaman berumur 40 hst.
Atas dasar penerapan prinsip pengendalian hama terpadu (PHT) dan untuk menjaga kelestarian lingkungan serta tersedianya bahan-bahan nabati lokal, maka kami mencoba mengendalikan hama wereng batang coklat ini dengan menggunakan Pestisida Nabati, dan mensosialisasikan penggunaan pastisida nabati ini kepada petani/kelompok tani untuk mengendalikan hama wereng coklat agar populasinya tidak berkembang lebih besar.
Dari berbagai jenis bahan nabati, kami mencoba mengkombinasikan beberapa bahan nabati untuk membuat pestisida nabati untuk mengendalikan hama wereng. Jenis-jenis bahan nabati tersebut adalah :

a.       Buah Maja (Aegle marmelos)
Maja atau kemplung merupakan tanaman tahunan dengan tinggi sekitar 10-15 m. Pohon maja memiliki batang berkayu, bulat, bercabang, berduri. Daun hijau tersebar pada batang muda, bentuk lonjong ujung dan pangkal daun runcing dengan tepi bergerigi, panjang daun 4-13,5 cm, lebar 2-2,5 cm. Buah berbentuk bola, diameter 5-12 cm, berdaging. Warna kulit luar buah hijau tetapi isinya kuning/jingga, biji pipih berwarna hitam.Rasa buah pahit dengan kandungan kimia al. marmelasin, minyak astiri, pectin, tannin, vitamin C, gula dan zat pati.
Penggunaan buah maja sebagai pestisida bekerja dengan cara mengusir hama akibat bau menyengat yang tidak disukai hama dank arena rasa yang pahit maka akan mengganggu fungsi pencernaan pada hama.

 b.      Daun Mindi (Melia azederach)
Mindi merupakan tanaman tahunan dengan tinggi sekitar 9-15 m. Bagian tanaman mindi yang dapat digunakan untuk pengendalian hama adalah daun, biji/buah dan kulit. Kandungan bahan aktif mindi yaitu azadirachtin, triul dan salanin.
Efektifitas mindi dalam pengendalian hama dengan cara kerja mengusir/menolak hama, menghambat hama untuk bertelur, juga mengandung racun kontak dan racun perut bagi serangga sasaran.
c.       Daun Sambiloto (Andrographis Paniculata)
Sambiloto merupakan jenis tanaman liar, berasa pahit, berkembang biak dengan biji atau stek batang. Tinggi tanaman mencapai 50-90 cm, batang dan cabang berbentuk segi empat, daun tunggal dengan panjang2-8 cm dan lebar 1-3 cm. Sambiloto mengandung andrograthin, androgatoid yang merupakan zat berasa pahit.

d.      Tembakau (Nicotiana tabacum)
Tanaman tembakau berwarna hijau, berbulu halus, batang dan daun diliputi oleh zat perekat. Tinggi pohon mencapai 2,5 m. Tembakau mengandung nikotin yang merupakan zat alkaloid yang mempunyai sifat farmakologi.

PEMBUATAN PESTISIDA NABATI “Jaditoko”
(Maja, Mindi, Sambiloto dan tembako)

a.      Bahan dan Alat :
o  buah maja
o  daun mindi
o  daun sambiloto
o  tembakau
o  air
o  panci
o  jerigen
o  kain penyaring
o  kompor gas

b.      Cara Membuat
o   3 butir buah maja yang telah masak diambil isinya
o   250 gr daun mindi dan
o   250 gr daun sambiloto dicincang
o   100 gr tembakau rajangan
 
Bahan-bahan tersebut diatas dimasukkan dalam panic yang berisi 5 ltr air, kemudian rebus dan diaduk sampai mendidih. Biarkan sampai dingin, kemudian disaring dengan kain untuk mendapatkan ekstrak yang bersih.Masukkan ekstrak ke dalam wadah/jerigen dan ditutup rapat. Biarkan selama 24 jam sebelum digunakan/diaplikasikan.

c.       Aplikasi
Aplikasi pestisida “jaditoko” dilakukan dengan cara disemprotkan dengan dosis 250 cc/tangki semprot (14 ltr). Tambahkan 1 sachet pewangi untuk menambah dan merekatkan daya racun pestisida. Penyemprotan dilakukan pada bagian bawah tanaman dimana terdapat hama wereng.
Efektifitas pestisida ini dalam mengendalikan hama wereng diduga karena hama ini tidak menyukai bau yang menyengat yang terkandung dalam bahan-bahan nabati dan juga terganggunya fungsi percernaan pada hama akibat adanya kandungan bahan beracun