Jumat, 29 Juni 2012

BUDIDAYA PADI BERBASIS SRI


A. Budidaya Padi dan Permasalahannya
Padi merupakan tanaman asli daerah Indo China, namun sekarang telah berkembang luas dan menjadi tanaman penghasil bahan pangan kedua setelah gandum. Tanaman ini merupakan tanaman yang sangat penting terutama di daerah tropik (Yayock et al., 1988). Walaupun dapat dibudidayakan secara dalam berbagai keadaan tanah, namun pada umumnya padi ditanam dalam keadaan tergenang (Williams, 1982)
Peningkatan produktivitas padi telah banyak dilakukan dengan beragam program, seperti Bimbingan Massal (Bimas), Intensifikasi Massal (Inmas), dan disusul Intensifikasi Khusus (Insus) dan Supra Insus. Dalam berbagai program tersebut, teknologi budidaya padi disusun dalam bentuk satu paket teknologi mulai dari penyiapan benih sampai panen. Pada kenyataannya, program tersebut telah mampu meningkatkan produksi padi nasional bahkan pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras.  Namun setelah itu mulai terjadi gejala levelling off produktivitas padi, bahkan selama tiga dasawarsa terakhir pertumbuhan produksi dan produktifitas padi mengalami penurunan yang signifikan. Sebagai akibatnya sejak tahun 1994, Indonesia sudah tidak lagi berswasembada beras.
Dalam jangka panjang, berbagai teknologi pertanian yang diterapkan telah memunculkan banyak permasalahan seperti penurunan produktivitas lahan dan daya dukung lingkungan, kerusakan lingkungan, maupun masalah–masalah sosial lainnya.
Budidaya padi  yang dilakukan petani selama ini sebenarnya mempunyai banyak kelemahan sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terbatas dan hasil panen menjadi rendah. Beberapa permasalahan tersebut adalah :
1. Seleksi benih
Pada umumnya petani padi melakukan seleksi benih dengan merendam benih di dalam air saja dan mengambil benih yang tenggelam. Metode ini mempunyai kelemahan karena biji yang tenggelam belum tentu mempunyai vigor yang tinggi, sehingga  yang dihasilkan kualitasnya kurang baik.
2. Pembibitan
Pembibitan padi biasa dilakukan dengan merendam benih dalam air selama 2 hari dan memeramnya selama 2 hari atau sampai benih berkecambah. Jika sudah berkecambah, benih disebar di lahan pembibitan, dan dipelihara sampai bibit siap tanam antara umur 3–4 minggu. Cara pembibitan ini mempunyai kelemahan karena memerlukan waktu yang lama dan bibit yang dihasilkan kualitasnya kurang baik karena bibit sudah terlalu tua. Pada saat pindah tanam (transplanting), sering kali daun tanaman dipotong agar tidak terlalu tinggi dan tanah yang melekat di akar dibersihkan,  serta  tidak segera ditanam atau dibiarkan bibit berada di lahan. Kondisi ini menyebabkan bibit yang ditanam akan kehilangan potensi tumbuh, akar menjadi rusak,  pertumbuhan kembali (regrowth) lambat, dan perkembangannya lambat.
3. Penanaman
Pada umumnya petani melakukan penanaman bibit padi dengan jumlah bibit banyak (ombol) 3–5 per lubang tanam dan menggunakan jarak tanam sempit (20 cm x 20 cm). Hal ini menyebabkan kebutuhan benih menjadi tinggi (50 kg/ha), serta terjadinya persaingan awal antar bibit dan antar rumpun. Penanaman dengan ditancapkan (ceblok) menyebabkan akar tanaman menjadi tumbuh tidak normal, pangkal batang berada di dalam tanah sehingga anakan lambat terbentuk serta pertumbuhan tanaman terhambat (tidak optimal).
4. Irigasi penggenangan
Irigasi yang dilakukan petani pada umumnya dilakukan dengan menggenangi lahan sejak pengolahan tanah, saat tanam sampai tanaman dewasa. Kondisi ini kurang menguntungkan bagi tanaman dan kehidupan organisme bermanfaat dalam tanah. Dalam keadaan tergenang, lahan menjadi anerob sehingga ketersediaan oksigen dalam tanah menjadi sangat terbatas. Oksigen diperlukan organisme bermanfaat dalam tanah untuk bernafas dan digunakan akar tanaman untuk respirasi. Dalam keadaan kurang oksigen, aktivitas organisme menjadi terbatas sehingga kemanfaatannya bagi tanaman rendah. Oksigen yang terbatas juga menyebabkan laju respirasi oleh akar tanaman berjalan lambat dan akibatnya energi yang dihasilkan menjadi rendah. Kondisi ini menyebabkan perkembangan (jumlah dan panjang) akar tanaman menjadi terbatas dan anakan tanaman menjadi sedikit. Selain itu, penggenangan berlebihan juga dapat menyebabkan efektifitas pemupukan (pupuk buatan) menjadi rendah karena banyak pupuk yang hilang akibat menguap (evaporasi), terbawa aliran air limpasan atau mengalami pelindian ke tanah bagian bawah. Penggunaan air yang berlebihan juga menyebabkan terjadinya pemborosan sumber daya air dan meningkatkan kebutuhan tenaga (biaya usaha tani).
Tanah yang tergenang air akan menyebabkan kerusakan pada struktur padi sebab padi bukanlah tanaman air. Padi membutuhkan air tetapi tidak terlalu banyak. Hal lain yang ditimbulkan oleh proses penggenangan adalah timbulnya hama. Secara alamiah, seperti padi liar yang tumbuh di hutan-hutan, hama dari padi memiliki musuh alami. Untuk padi liar, yang hidup di tanah kering, musuh alami hama padi dapat hidup dan menjaga kestabilan dengan memakan hama tersebut. Ketika padi hidup di tanah yang tergenang, maka musuh alami hama padi tidak dapat hidup sedangkan hama padi dapat hidup. Bahkan, hal ini memacu adanya hama padi baru yang berasal dari lingkungan akuatik.
Dalam suasana an-aerob, bakteri an-aerob fakultatif dapat menggunakan NO3 sebagai aseptor elektron (pengganti oksigen), sehingga nitrat tereduksi jadi N2 yang hilang ke atmosfer sehingga menjadi masalah dalam pengelolaan sawah genangan. Hal ini menyebabkan efektifitas pemupukan Nitrogen menjadi rendah kurang dari 30% dan ketersediaan Nitrogen bagi tanaman menjadi rendah. Kondisi tergenang juga menyebabkan tak berfungsinya kekuatan biologis tanah dan menghambat perkembangan sistem perakaran padi. Biota tanah aerob tak dapat berkembang dan diperkirakan hanya sekitar 25% yang berkembang optimal. Meskipun demikian, kondisi ini menjadikan lingkungan tidak optimal bagi pertumbuhan gulma sehingga kemungkinan munculnya gulma menjadi terbatas.
5. Pemupukan
Pada umumnya petani melakukan pemupukan hanya menggunakan pupuk buatan makro terutama nitrogen (urea) dengan dosis yang berlebihan. Pemupukan menggunakan pupuk buatan memang memiliki kecepatan transfer nutrisi yang cepat, tetapi hal ini tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh padi yang berusia muda karena padi tersebut hanya membutuhkan nutrisi yang relatif sedikit. Sisa dari nutrisi tersebut tidak termanfaatkan bahkan dapat terbawa oleh aliran air (karena lahan tanam tergenang) sehingga efektifitas dan efisiensi penggunaannya rendah (<30 %).
Penggunaan pupuk buatan secara terus menerus juga menyebabkan terjadinya kerusakan sifat tanah seperti tanah menjadi mampat/padat (bantat), penurunan pH (tanah menjadi masam),  meninggalkan residu yang berbahaya (terutama nitrat) dan tanah menjadi tidak kondusif bagi kehidupan organisme bermanfaat. Selain itu, penggunaan pupuk buatan juga menyebabkan terjadinya ketergantungan pada pupuk buatan dan peningkatan biaya usaha tani.
Berbagai permasalahan dalam budidaya padi tersebut pada akhirnya berakibat pada jumlah anakan menjadi terbatas (20–25), malai menjadi sedikit (10–20) dan hasilnya hasil rendah (4–6 ton/ha).

B. Pengembangan Teknologi Budidaya Padi
Dalam kurun 1999 hingga sekarang, muncul lagi inovasi intensifikasi guna lebih meningkatkan produktivitas dan produksi padi, seperti Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), System of Rice Intensification (SRI) dan pada tahun 2007 muncul terobosan teknologi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPATBO).
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (Balitpa), Sukamandi, Jabar, membuat konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) sekitar 1999. Penerapan PTT didasarkan pada empat prinsip, yaitu 1) PTT bukan merupakan teknologi maupun paket teknologi, tetapi merupakan suatu pendekatan agar sumber daya tanaman, lahan dan air dapat dikelola sebaik-baiknya; 2) PTT memanfaatkan teknologi pertanian yang sudah dikembangkan dan diterapkan dengan memperhatikan unsur keterkaitan/sinergis antar teknologi; 3) PTT memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik maupun sosial-ekonomi petani; dan 4) PTT bersifat partisipatif yang berarti petani turut serta menguji dan memilih teknologi yang sesuai dengan keadaan setempat dan kemampuan petani melalui proses pembelajaran.
PTT menekankan pada penerapan tiga komponen teknologi utama, yaitu pengairan berselang (intermiten), penggunaan bibit muda (satu bibit/lubang tanam), dan pemanfaatan bahan organik (pupuk kandang/ kompos). Komponen lain diperhatikan dalam penerapan sistem PTT adalah pengolahan tanah secara sempurna, pemupukan urea sesuai kebutuhan tanaman berdasar Bagan Warna Daun (BWD), sedangkan pupuk fosfor (SP-36) dan Kalium (KCl) berdasar hasil analisis tanah. Meski menggembirakan, penyebaran informasi PTT belum merata, masih banyak petani yang hanya mengandalkan pupuk buatan dan pengairan sistem tergenang (anaerob). Penerapan sistem PTT sebenarnya diarahkan untuk sawah beririgasi, tadah hujan, rawa, dan lahan kering, namun kenyataannya sistem tersebut lebih banyak dikampanyekan untuk sawah beririgasi.
Hampir bersamaan dengan sosialisasi PTT, Balitpa pun menguji teknologi SRI (System of Rice Intensifications) yang diadopsi dari Madagaskar. Namun uji coba penerapan SRI mulai banyak dilakukan sejak 2004.
Berbeda di negeri asalnya, teknologi SRI di Indonesia lebih menitikberatkan pada penggunaan pupuk organik dan untuk mengendalikan hama penyakit hanya mengandalkan pestisida alami sehingga diharap terjadi perbaikan kondisi lahan dan  hasil panen karena tidak tercemar bahan kimia dari pupuk maupun pestisida.
Komponen teknologi yang diterapkan pada sistem SRI tidak jauh berbeda dengan PTT hanya pola SRI lebih cocok untuk memproduksi padi organik. Bagi petani, sistem SRI masih ruwet dibanding pola konvensional, walaupun hasilnya sebanding. Untuk mendapatkan pupuk organik sesuai pola SRI (7-10 ton/ha) tidak mudah, dan di sisi lain 90% petani tanaman pangan masih mengandalkan pupuk kimia. Meski begitu, dengan menerapkan SRI, terjadi penghematan air 40% dibandingkan sistem konvensional. Benih yang dibutuhkan pun jauh lebih sedikt (hanya seperempat atau seperlimanya).
Pada tahun 2006–2007, Tualar Simarmata memperkenalkan teknologi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali–Bahan Organik (IPAT–BO), yang merupakan sistem produksi secara holistik dengan menitikberatkan pemanfaatan kekuatan biologis tanah, manajemen tanaman, pemupukan, dan tata air pendukung pertumbuhan dan pengembangan perakaran padi. Teknologi ini mengalihkan ekologi sawah tergenang (anaerob) menjadi tidak tergenang (aerob) dengan lahan dipertahankan lembab dan pemberian air hanya dilakukan jika tanah sudah retak–retak dengan mengenangi hingga 1 – 2 cm selama satu jam. Kondisi aerob ini berdampak pada pemulihan kekuatan biologis tanah dan menyuburkan akar padi. Kekuatan biologis tanah menghasilkan pupuk alami (bioreaktor) pada akar padi sehingga menghasilkan malai padi yang lebih banyak dan subur. Keunggulan teknologi ini juga dapat meningkat juga menghemat pemakaian air hingga 25% sehingga sesuai bahkan untuk musim kering, hemat pupuk buatan lebih dari 50%, hemat bibit 20-25 persen, panen lebih awal 7-10 hari.

C. Intensifikasi Padi Aerob Terkendali (IPAT)
Secara teknis, beberapa prinsip dasar dalam IPAT hampir sama dengan PTT dan SRI, terdiri atas 5 poin utama, yaitu 1) Penanganan bibit padi secara seksama, 2) penyiapan lahan tanam, 3) penanaman bibit dengan benar, 4) pengelolaan irigasi, dan 5) mikroorganisme lokal (MOL) dan kompos sebagai ’tim sukses’ dalam pencapaian produktivitas yang berlipat ganda.
1. Penanganan bibit padi secara seksama.
Penanganan bibit terdiri atas pemilihan benih unggul dan bibit berkualitas. Kualitas benih dan bibit sangat menentukan tingkat pertumbuhan dan hasil tanaman. Prinsip pemilihan benih adalah memilih benih dengan kualitas yang terbaik dengan mendasarkan pada benih yang berbobot tinggi (bernas). Tidak ada jaminan bahwa benih berlabel pasti mempunyai kualitas yang lebih baik dibanding benih produksi sendiri. Prinsip dasar pembibitan adalah pertumbuhan awal sangat menentukan pertumbuhan selanjutnya dan hasil tanaman sehingga pembibitan harus dilakukan dengan sebaik mungkin untuk menghasilkan bibit berkualitas.
Seleksi dapat dilakukan menggunakan larutan air garam, atau cuka, pupuk atau bahan yang lain. Larutan dengan konsentrasi yang tinggi memungkinkan hanya benih dengan bobot tinggi yang mampu tenggelam. Secara teknis, seleksi benih dan pembibitan dilakukan dengan cara :
a.      benih yang sudah kering dimasukkan dalam larutan garam dan diambil benih yang dapat tenggelam.
b.      benih terpilih dibilas dengan air  sampai bersih dan diangin-anginkan sampai kering.
c.        benih direndam dalam air (lebih baik larutan pupuk organik cair) dan diperam sampai benih berkecambah.
d.      medium tumbuh disiapkan berupa campuran pasir ayakan dengan pupuk kandang, serbuk gergaji, sekam, abu atau bahan organik lain.
e.        medium tanam dimasukkan dalam bak kecambah, besek, kotak kayu atau tempat lain yang memungkinkan untuk mudah dipindah tempatnya.
f.        benih yang sudah berkecambah ditaburkan dengan kerapatan sebar optimal, dan tutup benih dengan medium tanam tipis-tipis, dan letakkan bak kecambah di tempat terbuka (tidak ternaungi).
g.       pemeliharaan berupa penyiraman dilakukan sesuai dengan kondisi kelembaban medium tumbuh (lebih baik menggunakan larutan pupuk organik cair) sampai bibit siap tanam.
2. Penyiapan lahan
Penyiapan lahan dilakukan untuk menciptakan lingkungan tumbuh  optimal bagi pertumbuhan tanaman. Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan membajak lahan dan memberikan bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Jerami sisa panen musim sebelumnya akan lebih apabila dikembalikan ke lahan dengan terlebih dahulu didekomposisikan menjadi kompos atau bokhasi.
Penyiapan lahan dilakukan 2-3 hari sebelum penanaman dan untuk mengkondisikan lahan dalam keadaan aerob terkendali sebaiknya di sekeliling lahan dan setiap 5-6 m dibuat parit membujur untuk genangan air.
3. Penanaman bibit dengan benar
Prinsip dasar dalam penanaman adalah 1) pada awal pertumbuhan bibit menggunakan cadangan makanan dari endosperm gabah, 2) bibit peka terhadap kerusakan akibat faktor lingkungan, 3) kesalahan dalam penanaman berakibat pada pertumbuhan tanaman yang tidak optimal, dan 4) populasi tanaman yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya kompetisi terjadi dalam dan antar rumpun. Oleh karenanya penanaman bibit dilakukan dengan penanaman bibit usia muda (kurang dari 10 hari setelah penyemaian), penanaman satu bibit per titik tanam, penanaman dangkal (akar tidak dibenamkan dan ditanam horizontal), dan dalam jarak tanam yang cukup lebar.
a.      Penanaman bibit muda
Penanaman bibit pada usia 15 hari sesudah penyemaian akan membuat potensi anakan menjadi tinggal 1/3 dari jumlah potensi anakan. Hal ini berarti, dengan penanaman bibit muda dapat menambah potensi anakannya sekitar 64%. Oleh karenanya, bibit sebaiknya ditanam ketika gabah sebagai cadangan makanan belum terlepas dari bibit, yaitu antara 7-12 hari setelah tanam.
b.      Penanaman satu bibit per titik tanam
Tanaman padi membutuhkan tempat tumbuh yang cukup agar dapat mencapai pertumbuhan optimal. Ketika ditanam secara banyak, maka akan terjadi persaingan untuk mendapatkan nutrisi, cahaya matahari, udara, dan bahan lainnya dalam suatu titik atau area tanam. Meskipun demikian, untuk mengurangi penyulaman akibat kematian awal penanaman dapat dilakukan dengan menanam 2 bibit tiap titik tumbuh.
c.         Penanaman dangkal dengan metode ”L”
Penanaman dangkal bertujuan untuk memacu proses pertumbuhan dan asimilasi nutrisi akar muda. Jika ditanam terbenam, maka akan terjadi kekurangan oksigen yang dapat menimbulkan peracunan akar, gangguan siklus nitrogen yang dapat menyebabkan pelepasan energi, produksi asam yang tinggi serta tidak adanya rebalance H+ sehingga terjadi destruksi sel akar dan pertumbuhan struktur akar menjadi tidak lengkap. Semua akibat dari penanaman dengan cara dibenamkan akar memangkas potensi akar sampai menjadi ¼ nya saja.
Metode penanaman “L” dapat meningkatkan jumlah anakan, dan space dalam zona akar yang dicover oleh akar semakin luas. Akibatnya serapan hara dan respon tanaman lebih besar terhadap adanya beneficial of soil biology.
d.      Penanaman dalam jarak yang cukup lebar
Penanaman dalam jarak tanam lebar bertujuan untuk menjamin ketersediaan dan mengurangi tingkat kompetisi nutrisi, udara, cahaya matahari, dan faktor pertumbuhan lainnya selama pertumbuhan tanaman padi sampai siap panen. Beberapa praktek pengujian di Jawa Barat banyak menggunakan  jarak tanam 30 cm x 30 cm, bahkan 35 cm x 35 cm.
Beberapa percobaan lapangan menunjukkan bahwa penanaman bibit padi umur muda dengan sistem tanam tunggal dan jarak tanam lebar dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman, namun hal tersebut mengandung resiko yang besar. Penggunaan bibit muda memungkinkan pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik dan potensial menghasilkan anakan lebih tinggi, karena tanaman belum kehilangan potensi (vigor) dan pertumbuhan awal bibit masih didukung oleh keberadaan endosperm sebagai cadangan makanan yang belum habis dan masih menempel pada bibit. Selain itu, bibit tidak perlu banyak melakukan adaptasi terhadap lingkungan yang baru. Meskipun demikian, penggunaan bibit muda mengandung resiko jika mengalami kematian awal akibat gangguan jasad pengganggu mengharuskan adanya penyulaman intensif. Sebaliknya semakin bertambahnya umur bibit, tanaman semakin kehilangan potensi pertumbuhannya dan ketika transplanting tanaman lebih suilit beradaptasi dengan lingkungan tanaman yang baru sehingga pertumbuhan dan hasilnya kurang baik.
4.  Pengelolaan irigasi
Teknologi IPAT hanya menggunakan air sampai keadaan tanahnya sedikit terlihat basah oleh air (macak-macak) dan sangat berbeda dengan metode konvensional yang menggunakan air sampai pada tahap tanahnya menjadi tergenang oleh air.
Pengelolaan lahan dengan aerob terkendali berhubungan dengan tingkat penyediaan lengas dan unsur hara bagi tanaman. Dalam kondisi aerob terjadi ketersediaan oksigen untuk respirasi lebih tersedia sehingga dapat berlangsung lebih cepat. Selain itu, kondisi aerob menyebabkan proses mineralisasi bahan organik (c-organik) terutama ammonifikasi berjalan baik. Dengan peningkatan kedalaman zona serapan (zona aerob), kehilangan Nitrogen dalam denitrifikasi dapat dicegah sehingga efisiensi pupuk dapat meningkat (>30%). Genangan di dasar rizosfer memberikan suasana reduktif yang menekan proses mineralisasi. Unsur P dan K  mendekati akar secara difusi dan mass-flow.  Penyediaan hara mikro berasal dari proses dekomposisi bahan organik di lapisan atas dan proses metanogenesis dalam lapisan an-aerob. Selain itu, kondisi tidak tergenang (aerob) ini berdampak pada pemulihan kekuatan biologis tanah dan menyuburkan akar padi. Kondisi aerob terkendali akan menciptakan lingkungan mikro klimat yang lebih baik bagi pertumbuhan perakaran dan perkembangan mikro organisme aerob sehingga dapat membantu penyediaan unsur hara bagi tanaman. Dalam suasana an-aerob, bakteri an-aerob fakultatif dapat menggunakan NO3 sbg aseptor elektron (pengganti oksigen), sehingga nitrat tereduksi jadi N2 (problem sawah dengan genangan).
Secara teknis, pengelolaan irigasi dilakukan dengan cara :
a.      Setelah pengolahan tanah, lahan dibiarkan dalam tidak tergenang sehingga pada saat penanaman bibit lahan dalam keadaan lembab
b.      Setelah penanaman, lahan tetap dibiarkan tanpa penambahan air agar bibit dapat berdiri kuat, dan baru diberikan tambahan air dua sampai tiga setelah tanam dengan ketinggian air antara 1-2 cm saja sampai dilakukannya penyiangan.
c.        Setelah penyiangan, tanah dibiarkan tanpa pemberian air sehingga kondisinya hanya dalam keadaan lembab, dan baru diberikan tambahan air bila tanah sudah retak-retak dan berubah warna menjadi putih (mulai kering). Pemberian air dilakukan dengan menggenangi lahan selama 1-2 hari dengan ketinggian air 1-2 cm, dan setelah itu dibiarkan dalam keadaan lembab lagi.
d.      Untuk menciptakan kondisi ideal bagi tanaman padi, maka parit di sekeliling lahan dan di tengah lahan diusahakan tetap menggenang sehingga terjadi resapan air ke dalam zona perakaran tanaman.
5.  Mikroorganisme lokal (MOL) dan Kompos
Peningkatan produktivitas padi yang berlipat ganda sangat ditentukan oleh mikro organisme lokal (MOL) dan kompos sebagai ’tim sukses’. Untuk meningkatkan kondisi tanah yang optimal dalam keadaan aerob terkendali, penyediaan bahan organik menjadi sangat penting. Semakin banyak bahan organik tersedia, kemampuan tanah untuk menyimpan air menjadi lebih besar, lahan menjadi lebih gembur dan bioreaktor menjadi lebih baik sehingga pertumbuhan akar padi menjadi lebih baik dan menghasilkan malai padi yang lebih banyak dan subur.
Peran kompos tidak sekedar sebagai pengganti dari pupuk, tetapi lebih kompleks. Peran kompos, selain sebagai penyuplai nutrisi juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga proses tumbuh padi secara optimal. Bioreaktor yang dibangun oleh kompos, mikrooganisme lokal, struktur padi, dan tanah menjamin bahwa padi selama proses pertumbuhan dari bibit sampai padi dewasa tidak mengalami hambatan. Fungsi dari bioreaktor sangatlah kompleks, fungsi yang telah teridentifikasi antara lain adalah penyuplai nutrisi sesuai kebutuhan melalui mekanisme eksudat, kontrol mikroba sesuai kebutuhan padi, menjaga stabilitas kondisi tanah menuju kondisi yang ideal bagi pertumbuhan padi, bahkan kontrol terhadap penyakit yang dapat menyerang padi
Namun penyediaan pupuk organik sebagai sumber hara utama sering menjadi kendala. Dalam pupuk organik kandungan hara jauh dibawah realis hara yang dihasilkan oleh pupuk buatan, sehingga untuk memenuhi kebutuhan dasar tanaman (minimum crop requirement) cukup membuat petani kewalahan. Untuk menanam padi seluas 1 ha saja dibutuhkan pupuk organik (kompos) sekitar 5 ton untuk satu musim tanam.

D.  Penutup
Perkembangan teknologi budidaya padi (PTT, SRI, IPAT) di Indonesia dapat menjadi suatu alternatif pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia dalam jangka panjang. Sasaran jangka pendek dari sistem IPAT-BO adalah kesadaran masyarakat dan petani akan perlunya melestarikan lahan dan menciptakan kondisi lingkungan yang sesuai bagi kebutuhan tanaman dengan memanfaatkan sumber daya tersedia, mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis seperti pupuk dan pestisida buatan, serta berusaha semampunya memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar mereka. Untuk jangka panjang, penciptaan lingkungan tanaman yang kondusif akan memberikan produktifitas, stabilitas, kemerataan, dan keberlanjutan sistem usaha tani yang tinggi.
Sosialisasi teknologi pertanian ke masyarakat terutama petani membutuhkan kerja keras dan kerja sama semua pelaku bidang pertanian, pemerintah, akademisi, petani dan jika mungkin usahawan. Kebiasaan bertani yang sudah dilakukan petani secara turun temurun mempunyai peluang untuk menimbulkan resistensi dalam menerima teknologi baru sehingga perlu adanya pendampingan yang berkelanjutan.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1983. Pedoman Bercocok Tanam Padi, Palawija dan Sayuran. Deptan Satuan Pengendalian Bimas, Jakarta. 281p.
Anonim.1996. Standard Evaliation System Ror Rice. International Rice Reseach Institute.
_______.2007. Bertanam Padi Di Tanah Bencana. Jurnal Penelitian. www.pustaka-deptan.go.id. Balai Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. 4p.
Anonim. 2007. Pengembangan Pertanian Oganik di Indonesia dan Kendala Yang Dihadapi. http://pengawasbenihtanaman.blogspot.com/
_______.2007. Deskripsi Botani Tanaman Padi. www.distan.deptan-diy.go.id. Selasa 10 Juli   2007. 09.52 PM
_______.2007. Padi. www.warintekbantul.go.id. Selasa 10 Juli 2007. 09.40 PM.
_______.2007. Produksi Padi Dan Perdagangan Dunia. www.wikipedia.org. Minggu 5 Agustus 2007. 02.14 PM.
_______.2007. Setelah Menghilang Ratusan Tahun. www.tempointeraktif.com. Jumat 6 Juli 2007. 09.03 PM.
_______.2007. Tanaman Padi Yang Kembali Dari Mati. www.tempointeraktif.com. Jumat 6 Juli 2007. 09.23 PM.
Basri, H .1991. Pengaruh Stres Garam Dan Produksi Terhadap Empat Varietas Kedelai. Thesis Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Bintoro, M.H. 1989. The Effect of NaCl Treatment on Some Vegetables Crops. Thesis of Master of Agriculture University of Okayama, Japan. 57 p.
Fitter, A.H & R.K.M. Hay. 1994. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Terjemahan Sri Andani & E.D. Purbayanti. Gama Press, Yogyakarta. 421 p.
Gardner, F.P. R.B. Pearce & R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan Herawati Susilo. UI Press, Jakarta. 428 p.

Husnain dan Haris Syahbuddin . 2005. Mungkinkah Pertanian Organik di Indonesia? Peluang dan Tantangan. http://Inovasi Online Vol_4-XVII-Agustus 2005.

Jurgen Anthofer. 2004. The Potential of the System of Rice Intensfication for Poverty Reduction in Cambodia. Makalah disampaikan pada Conference on International Agricultural Research for Development, Berlin 4-10 Oktober 2004
Ritung , S., A. Mulyani . , B. Kartawa dan H. Suhardja. 2004 .  Peluang Perluasan  Tanah  sawah dan Teknologi Penglolaannya. Agus, F , A. Adimihardja . , S. Hardjowigeno, A.M.Fagi, dan W. Hartatik (Eds). Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah  dan Agroklimat Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman. Departemen Pertanian. Pp : 225-250
Salisbury, F.B. & C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Terjemahan Diah R. Lukman & Sumaryono. ITB Bandung. 241 p.
Suardi, D. 2002. Perakaran Padi Dalam Hubungannya Dengan Toleransi Tanaman Terhadap Kekeringan Dan Hasil Jurnal Litbang Pertanian, 21(3), 2002
Sugeng, 1993. Bercocok Tanam Padi. Anelka Ilmu. Semarang. 68p
Uphoff, Norman. ?. Questions and Answers about the System of Rice Intensification (SRI) for Rising the Productivity of Land, Labor and Water.
Widodo, S. 2008. Pertanian Organik Wujud Baru Kapitalisme : Perspektif Ekologi dan Ekonomi. http://learning-of.slametwidodo.com/?p=63
Yayock, J.Y., G. Lombin, dan J.J. Ounobi. 1988. Crop Science and Production in Warm Climates. Macmillan Publisher Ltd, London and Basingstoke. 307

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar